Struktur Komunitas Tumbuhan Paku Di Hutan Mangrove Distrik Teluk Etna Kabupaten Kaimana Provinsi Papua Barat

  • Alfredo O. Wanma Jurusan Kehutanan, Fakultas Kehutanan Universitas Papua Manokwari

Abstract

Hutan mangrove merupakan salah satu hutan di daerah pantai. Hutan mangrove memiliki keanekaragaman jenis tumbuhan yang sangat sedikit karena dipengaruhi oleh faktor lingkungan yang ekstrim. Tumbuhan paku merupakan salah satu jenis tumbuhan yang dapat tumbuh di hutan mangrove, namun keanekaragaman jenisnya sedikit jika dibandingkan dengan hutan dataran rendah dan pegunungan. Penelitian tumbuhan paku di hutan mangrove sangat sedikit. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui struktur dan keanekaragaman tumbuhan paku hutan mangrove di Distrik Etna Kabupaten Kaimana. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah line plot systematic sampling. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa terdapat 17 jenis dari 10 famili tumbuhan paku yang terdiri atas 2 tipe tumbuh yaitu epifit dan terrestrial. Asplenium nidus merupakan jenis yang dominan di lokasi pengamatan. Keanekaragaman jenis tumbuhan paku di lokasi penelitian dikategorikan sedang. Pola penyebaran jenis tumbuhan paku di hutan mangrove distrik Etna Kabupaten Kaimana menunjukan jenis Asplenium nidus, Lepisorus sp., Acrostichum aureum dan A. speciosum memiliki pola penyebaran seragam atau teratur, dan 13 jenis lainya memiliki pola penyebaran berkelompok atau menggerombol.

 

Downloads

Download data is not yet available.

References

Bhattarai, K.R., Vetaas, O.R., Grytnes, J.A. (2004). Fern species richness along a central himalayan elevational gradient, Nepal. J. Biogeogr, 31, 389–400.

Ceri, B., Lovadi, I., Linda, R. (2014). Keanekaragaman jenis paku-pakuan (Pteridophyta) di mangrove muara sungai peniti Kecamatan Segedong Kabupaten Pontianak. Jurnal Protobiont, 3(2), 240-246.

Fatubun, A.F. (2006). Keragaman pterydophyta reofit di sekitar kali wakrek Kampung Wersam dan kali wandares Kampung Sorendiweri Pulau Supiori. Skripsi Sarjana Fakultas Kehutanan Universitas Papua. Manokwari.

Holttum, R.E. (1966). A. revised flora of malaya: Vol. II, Ferns of Malaya. Government Printing Office. Singapura.

Kato, M. (1992). Cytotataxonomic and reproductive biological of asian pteridophytes. Proc. Sem. Asian Pterid. II: 5-8.

Krebs, C.J. (1989). Ecological methodology. New York: Harper and Row Publisher (USA).

Linnera, G.W., Rios, M.P., Gomez. R.H. (2005). Fern richness, tree species surrogacy and fragment complementary in a Mexican Tropical Montane Cloud Forest. Biodiv Conserv, 14, 119-133.

Marshall, A.J., BM. Beehler. (2006). Ecology of Papua: Part One. Periplus Edition (HK) Ltd Singapura.

Marsoedi., Samlawi, A. (1997). Panduan pelatihan pelestarian dan pengembangan ekosistem mangrove secara terpadu dan berkelanjutan. Pusat Penelitian Lingkungan Hidup-Universitas Brawijaya.

Metelmety, R.F.A. (2005). Keragaman jenis pteridophyta pada kawasan hutan Kampung Werba Distrik Fak-Fak Barat Kabupaten Fak-Fak. Skripsi Sarjana Fakultas Kehutanan Universitas Papua. Manokwari.

Michael, P. (1994). Metodologi ekologi untuk penyelidikan lapangan dan laboratorium. Koester YR, S. Suharto Penerjemah. Universitas Indonesia. Jakarta. Terjemahan dari: Ecological Methods for Field and Laboratory Investigations.

Moran, R.C. (2002). Tropical diversity. Fiddlehead forum, 29, 14–15.

Ningrum, H.R. (2005). Jenis-jenis tumbuhan paku deofit di sungai waryori Distrik Masni Kabupaten Manokwari. Skripsi Sarjana Fakultas Kehutanan Universitas Negeri Papua. Manokwari.

Noor, Y.R., Khazali, M., Suryadiputra, I.N.N. (2006). Panduan pengenalan mangrove di Indonesia. PKW/WI-IP, Bogor.

Odum, P.E. (1993). Fundamental of ecology. Samingan T. (penerjemah): Dasar-dasar ekologi. Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Raweyai, C.O. (2005). Populasi jenis paku-pakuan (pteridophyta) di hutan sekitar Kampung Yomber Pulau Mios Waar Teluk Wondama. Skripsi Sarjana Fakultas Kehutanan Universitas Negeri Papua. Manokwari.

Saenger, P., E.J. Hegerl & J.D.S. Davie. (1983). Global Status of Mangrove Ecosystems. IUCN Commission on Ecology Papers No. 3, 88 hal.

Sastrapradja, S., Afriastini, J.J., Darnaedi, D., Wijaya, E.A. (1979). Jenis paku Indonesia. Bogor (ID). Lembaga Biologi Nasional-LIPI.

Siregar, D.M. (2005). Jenis-jenis tumbuhan paku reofit di sepanjang kali umberi Kampung Nuni Kabupaten Manokwari. Skripsi Sarjana Fakultas Kehutanan Universitas Negeri Papua. Manokwari.

Soerianegara, I. 1987. Masalah Penentuan Batas Lebar Jalur Hijau Hutan Mangrove. Prosiding Seminar III Ekosistem Mangrove. Jakarta. Hal 39.

Sulaiman, I. (2005). Eksplorasi jenis paku-pakuan (Pteridophyta) di kamwolkar Distrik Abepura Kotamadya Jayapura. Skripsi Sarjana Fakultas Kehutanan Universitas Negeri Papua. Manokwari.

Stace, C.A. (1980). Plant taxonomy and biosystematics. Contemporar Biology, London (GB). Edward Arnold. hlm. 279.

Wanma, A.O. (2016). Keanekaragaman Tumbuhan paku (pteridophya) di gunung arfak papua barat. Tesis Pascasarjana IPB. Bogor.

Watkins, Jr.J.E., Cardelus, C., Colwell. R.K., Moran, R.C. (2006). Species richness and distribution of ferns along an elevational gradient in Costa Rica. Am J Of Bot, 93(1), 73-83.

Winter, W.P., Amroso, V.B. (2003). Cryptogams: Ferns and fern allies. Prosea (2): Leiden (DK). Backhuys Publisher. hlm. 268.
Published
2021-12-30
How to Cite
Alfredo O. Wanma. (2021). Struktur Komunitas Tumbuhan Paku Di Hutan Mangrove Distrik Teluk Etna Kabupaten Kaimana Provinsi Papua Barat. JURNAL KEHUTANAN PAPUASIA, 7(2), 143 - 151. https://doi.org/10.46703/jurnalpapuasia.Vol7.Iss2.247