Tren Produksi Kayu Bulat IUPHHK Dan Kontribusinya Terhadap Penerimaan PNBP Sektor Kehutanan Di Provinsi Papua

Authors

  • Agustinus B. Aronggear Program Studi Magister Ilmu Kehutanan, Sekolah Pasca Sarjana Universitas Papua
  • Wahyudi Jurusan Kehutanan, Fakultas Kehutanan Universitas Papua Manokwari
  • Antoni Ungirwalu Jurusan Kehutanan, Fakultas Kehutanan Universitas Papua Manokwari

DOI:

https://doi.org/10.46703/jurnalpapuasia.Vol7.Iss2.250

Keywords:

Tren produksi, kayu bulat, PNBP, IUPHHK, Papua

Abstract

Hutan alam telah menjadi primadona bagi pendapatan negara sejak masa orde baru dan menjadi urutan terbesar kedua setelah sektor migas. Sistem pengelolaan timber management (TM) melibatkan sektor swasta melalui kehadiran HPH (Hak Penguasaan Hutan) atau yang dikenal saat ini dengan Ijin Usaha Pengelolaan Hasil Hutan Kayu (IUPHHK). Dalam perkembangannya kehadiran HPH/IUPHHK terus mengalami perubahan di provinsi Papua sesuai dengan kebijakan pengelolaan hutan di Indonesia. Merosotnya produksi kayu bulat hutan alam mengacam penurunan PNBP (Penerimaan Negara Bukan Paak) sektor kehutanan terutama melalui realisasi pembayaran tarif PSDH dan DR. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui tren produksi kayu bulat IUPHHK aktif dan kontribusinya terhadap pendapatan PNBP sektor kehutanan di Provinsi Papua. Metode yang digunakan dalam penelitian ini ialah metode deskriptif melalui teknik wawancara semi struktural dan diskusi terkait faktor-faktor yang mempengaruhi jalannya produksi kayu bulat dan evaluasi penerimaan iuran PSDH, DR, dan IIUPH pada pemegang izin IUPHHK. Hasil penelitian menunjukan bahwa tren produksi kayu bulat (m3) periode 2014 – 2019 bervariasi dimana nilai produksi tertinggi terlihat pada tahun 2015 dengan total realisasi produksi sebesar 1,163,665 m3. Sementara penerimaan PNBP dari periode 2014-2019 terlihat cukup tinggi pada tahun 2015. Perusahaan dengan kontribusi PNBP tertinggi terdapat pada PT. Jati Dharma PI. Hasil analisis tren regresi sederhana antara penerimaan dan produksi kayu bulat masih telihat cukup positif dengan rataan pertumbuhan sebesar 15 persen. Diharapkan dari kajian ini memberikan informasi aktual terkait dampak perubahan regulasi tarif DR dan PSDH yang berpengaruh terhadap pendapatan sektor kehutanan di Papua.

Downloads

Download data is not yet available.

References

Astana, S., & Karyono, O.K. (2014). Sumber daya hutan terhadap laba pemegang konsesi hutan dan penerimaan negara bukan pajak : studi kasus hutan alam produksi di Kalimantan Timur, Indonesia (The implication of reforestation fund and forest resource provision tariff changes on profit of fo. Jurnal Penelitian Sosial Dan Ekonomi Kehutanan, 1999, 251–264.

Barr, C., Resosudarmo, I.A.P., Dermawan,A., McCarthy, J., Moeliono, M., & Setiono, B. (2006). Decentralization of forest administration in Indonesia. In C. Barr, I. A. P. Resosudarmo, A. Dermawan, J. McCarthy, M. Moeliono, & B. Setiono (Eds.), Implications for Forest Sustainability, Economic Development and Community Livelihoods (Issue May 2021). Center for International Forestry Research.

Benyamin, R., Supriambodo, B., Santoso, I., Siswono, H., David, Widyantoro, B., Soewarso, Erwansyah, Siswoko, E., Yasman, I., Rahmin, K., Purwita, T., Sugijanto, Maksum, J. (2019). Road map pembangunan hutan produksi tahun 2019-2045. Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI), https://www.rimbawan.com/files/2020/05/Road-Map-APHI-2019-2045-Mobile_compressed.pdf (Diunduh 27 Januari 2021).

Byron, N., Arnold, J.E.M. (1997). What futures for the people of the tropical forest? CIFOR Working Paper. No. 9. Bogor, Indonesia: Center for International Forestry Research (CIFOR).

Djamil, I., Umar, S., Golar. (2018). Analisis kebijakan provisi sumberdaya hutan (PSDH), dana reboisasi (DR) dan penggantian nilai tegakan (PNT) di Provinsi Sulawesi Tengah. Mitra Sains, 6(1), 19-30.

Erwinsyah, Harianto, Sinaga, B.M., Simangunsong, B.C. (2017). Analisis penawaran dan permintaan kayu bulat untuk pemenuhan kebutuhan industri kayu lapis, kayu gergajian dan pulp di Indonesia. Sosio-E-Kons, 9(2), 117-124.

Fury, C. (2008). Faktor-faktor yang mempengaruhi ekspor kayu olahan di Indonesia tahun 1985-2005. [Skripsi]. Program Studi Pendidikan Ekonomi Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

Kuswandi, R., Sadono, R., Supriyatno, N., Marsono, D. (2015). Model pengelolaan hasil hutan kayu oleh masyarakat adat: Studi kasus pemilik hak ulayat di Kabupaten Teluk Bintuni. Jurnal Kehutanan Papuasia, 1(1): 11-17.

Prasetyo, W.A., Budiani, E,S., Arlita, T. (2017). Kontribusi sektor kehutanan terhadap pendapatan asli daerah (PAD) di Kabupaten Kuantan Singingi. Jom Faperta, 4(1).

Suryandari, E.Y. (2008). Analisis permintaan kayu bulat industri pengolahan kayu. Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan, 5(1), 15-26.

Syafrani, M.H., Iskandar, R., Gani, I. (2017). Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi sektor kehutanan dan dampaknya terhadap kesempatankerja. Jurnal Inovasi, 13 (2), 124-134.

Tokede, M.J., Wiliam, D., Widodo, Gandhi, Y., Imburi, C., Patriahadi, Marwa. J. Yufuai, M.C. (2005). Dampak otonomi khusus di sektor kehutanan Papua. Pemberdayaan masyarakat hukum adat dalam pengusahaan hutan di Kabupaten Manokwari. CIFOR.

Ulya, A.N., dan Yunardi, S. (2006). Analisis dampak kebkaran hutan di Indonesia terhadap distribusi pendapatan masyarakat. Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan Palembang Sumatera Selatan, 3(2), 133-146.

Published

2021-12-30

How to Cite

Agustinus B. Aronggear, Wahyudi, & Antoni Ungirwalu. (2021). Tren Produksi Kayu Bulat IUPHHK Dan Kontribusinya Terhadap Penerimaan PNBP Sektor Kehutanan Di Provinsi Papua . JURNAL KEHUTANAN PAPUASIA, 7(2), 171–185. https://doi.org/10.46703/jurnalpapuasia.Vol7.Iss2.250

Most read articles by the same author(s)