Kandungan Kualitatif Senyawa Metabolit Sekunder Ekstrak Etanol Daun Pandemor (Pemphis acidula J. R. Forst. & G. Forst) Asal Pulau Biak

  • Aries Toteles Ap Program Studi Magister Ilmu Kehutanan, Sekolah Pascasarjana Universitas Papua
  • Cicilia Maria Erna Susanti Jurusan Kehutanan, Fakultas Kehutanan Universitas Papua Manokwari
  • Abdul Azis Jurusan Kehutanan, Fakultas Kehutanan Universitas Papua Manokwari
  • Rafsanjani Abdul Rasyid Program Studi Farmasi, Fakultas MIPA Universitas Cenderawasih Jayapura
  • Isabella Weno Program Studi Farmasi, Fakultas MIPA Universitas Cenderawasih Jayapura
  • Yefani T. Tahamata Program Studi Farmasi, Fakultas MIPA Universitas Cenderawasih Jayapura

Abstract

Tumbuhan pandemor (Pemphis acidula) merupakan salah satu tumbuhan berkhasiat menyembuhkan yang banyak dimanfaatkan sebagai ramuan untuk mengobati patah tulang, nyeri, dan pegal-pegal oleh masyarakat di wilayah Pulau Biak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui senyawa metabolit sekunder secara kualitatif yang terdapat pada ekstrak etanol daun pandemor (P. acidula) asal Kampung Wari dan Pulau Fani (Kabupaten Biak Numfor) serta Kampung Nyanbarai dan Pulau Auki (Kabupaten Supiori). Sampel daun dibuat dalam bentuk simplisia dan diekstrak menggunakan etanol 96% sebelum dilakukan analisis senyawa metabolit sekunder secara kualitatif yang meliputi alkaloid, flavonoid, saponin, tanin, triterpenoid dan streroid. Hasil penelitian diperoleh bahwa ekstrak etanol daun pandemor positif mengandung senyawa golongan alkaloid, flavonoid, saponin, dan tannin pada semua simplisia dari lokasi yang berbeda.

Downloads

Download data is not yet available.

References

Arivuselvan, N.D., Silambarasan, T., Gocindan, and Kathiresan, K. (2011). Antibacterial activity of mangrove leaf and bark extract against human pathogen. Advances in Biological Research, 5(5), 251-254.

Basyuni, M.H., Sagami, S., Baba, H., Iwasaki, and Oku, H. (2016). Diversity of polysoprenoids in ten Okinawan mangroves. Dendrobiology, 75, 167-175, DOI: http://dx.doi.org/10.12657/denbio.075.016.

Goutham, B.M. P., Titus, I., Kaliyamoorthy, M., Gogoi, N. K.R.K.S., and Roy, S.D. (2015). Notes on Pemphis acidula J. R. Forst. & G. Forst (Myrtales: Lythraceae) from Andaman Island, India. Journal of Threatened Taxa, 7(8), 7471-7474, DOI: https://doi.org/10.11609/JoTT.o4146.7471-4

Hardjito, L., dan Harianja, D.W. (2006). Kajian biodesinfektan dari ekstrak sentigi (Pemphis acidula) sebagai alternatif pengganti klorin dalam industri pengolahan udang. Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan, 1(2), 149-156. DOI: http://dx.doi.org/10.15578/jpbkp.v1i2.398.

Juniarti, Osmeli, D., dan Yuhernita. (2009). Kandungan senyawa kimia, uji toksisitas BSLT (Brine Shrimp Lethality Test) dan antioksidan (1,1-diphenyl2- picrilhydrazyl) dari ekstrak daun saga (Abrus precatorius L.). Makara Sains, 13(1), 50-54. https://doi/org/10.7454/mss.v13i1.378.

Lumbessya, M., Abidjulu, J., dan Paendong, J.J.E. (2013). Uji total flavonoid pada beberapa tanaman obat tradisional di Desa Waitina Kecamatan Mangoli Timur Kabupaten Kepulauan Sula Provinsi Maluku Utara. Jurnal MIPA, 2(1), 50–55, DOI: https://doi.org/10.35799/jm.2.1.2013.766.

Muliani, S.A., Hakim, dan Al Idrus, S.W. (2021). Pengembangan modul praktikum kimia bahan alam: Isolasi senyawa stigmasterol dari daun tumbuhan majapahit (Crescentia cujete). Chemistry Education Practice, 4(3), 224-229 DOI: http://dx.doi.org/10.29303/cep.v413.2129.

Nugrahani, R.Y., Andayani, dan Hakim, A. (2016). Skrining fitokimia dari ekstrak buah buncis (Phaseolus vulgaris L.) dalam sediaan serbuk. Jurnal Pendidikan IPA, 2(1), 96-103, DOI: 10.29303/jppipa.v2i1.38.

Purnobasuki, H. (2004). Potensi mangrove sebagai tanaman obat. Biota, IX (2), 125-126.

Panche, A.N., Diwan, A.D., and Chandra, S.R. (2016). Flavanoids: an overview. Journal of Nutritional Science, 5(47), 1-15, DOI: https://doi.org/10.1017/jns.2016.41.

Samidurai, K., and Saravanakumar, A. (2009). Antibacterial activity of Pemphis acidula Forst. Global Journal of Pharmacology, 3(2), 113-115.

Sarker, S., Latif, Z., dan Gray, A.I. (2008). Natural product isolation. Humana Press. DOI: 10.1385/1-59259-955-9:1.

Sholekah, F.F. (2017). Perbedaan ketinggian tempat terhadap kandungan flavonoid dan beta karoten buah karika (Carica pubescens) daerah Dieng Wonosobo. Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Biologi dan Biologi. Jurusan Pendidikan Biologi Fakultas MIPA Universitas Negeri Yogyakarta, Yogyakarta B75 – B81 (Diakses 30 Januari 2022).

Sparg, S.G., Light, M.E., and van Staden, J. (2004). Biological activities and distribution of plant saponins. Jurnal of Ethnopharmacology, 94, 219-243, DOI: https://doi.org/10.1016/j.jep.2004.05.016.

Tarakanita, D.N.S., Satriadi, T., dan Jauhari, A. (2019). Potensi keberadaan fitokimia kamalaka (Phyllanthus emblica) berdasarkan perbedaan ketinggian tempat tumbuh. Jurnal Sylva Scienteae, 2(4), 645 – 654.

Untu, S.D. (2019). Aktivitas antibakteri kulit batang santigi Pemphis acidula Forst terhadap Staphylococcus aureus dan Pseudomonas aeruginosa. Jurnal Biofarmasetikal Tropis, 2 (2), 61-68 https://journal.fmipaukit.ac.id/index.php/jbt/article/view/104.

Vincken, Jean-Paul, L., Heng, A., de Groot, and Gruppen, H. (2007). Saponin, classification and occurrence in the plant kingdom. Phytochemistry, 68, 275-297, DOI: https://doi.org/10.1016/j.phytochem.2006.10.008.

Widi, R.K., dan Indriati, T. (2007). Penjaringan dan identifikasi senyawa alkaloid dalam batang kayu kuning (Arcangelisia flava Merr.). Jurnal Ilmu Dasar, 8(1), 24-29.
Published
2022-06-30
How to Cite
Aries Toteles Ap, Cicilia Maria Erna Susanti, Abdul Azis, Rafsanjani Abdul Rasyid, Isabella Weno, & Yefani T. Tahamata. (2022). Kandungan Kualitatif Senyawa Metabolit Sekunder Ekstrak Etanol Daun Pandemor (Pemphis acidula J. R. Forst. & G. Forst) Asal Pulau Biak. JURNAL KEHUTANAN PAPUASIA, 8(1), 47 - 54. https://doi.org/10.46703/jurnalpapuasia.Vol8.Iss1.289