Kepadatan Populasi, Frekuensi Relatif dan Kemampuan Spathoglottis papuana Hidup pada Berbagai Ekosistem di Cagar Alam Pegunungan Cycloop, Papua

Authors

  • Agustina Yohana Setyarini Arobaya Laboratorium Konservasi dan Lingkungan Hidup, Fakultas Kehutanan, Universitas Papua
  • Abigail Florence Pattiselanno Mahasiswa Program Studi Arsitektur, Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Sam Ratulangi, Manado

DOI:

https://doi.org/10.46703/jurnalpapuasia.Vol8.Iss1.286

Keywords:

Anggrek, diversitas, padang-rumput, populasi, CAPC

Abstract

Cagar Alam Pegunungan Cycloop (CAPC) menjadi tempat hidup berbagai macam flora fauna. Anggrek merupakan salah satu kekayaan hayati yang sering dijumpai tumbuh dalam kawasan tersebut. Spathoglottis papuana yang hidup secara terestrial pada kawasan CAPC pada berbagai tipe ekosistem yang ada di dalamnya mulai dari hutan hujan dataran rendah sampai dataran tinggi dan pegunungan. Paper ini membahas mengenai potensi S. papuana dan habitatnya yang belum banyak diketahui dari kawasan tersebut. Metode pendekatan yang digunakan adalah eksplorasi dan pembuatan 6 plot pengamatan berukuran 0,1 hektar yang diletakan pada 6 lokasi dijumpai anggrek untuk melihat populasi dan densitas anggrek tanah S. papuana. 30 petak berukuran 20 × 20 diletakan secara sistematis pada plot pengamatan berukuran 300 × 200 meter persegi pada dua lokasi masing-masing di bagian barat dan timur kawasan CAPC untuk analisis vegetasi pada habitat anggrek. Hasil analisis populasi S. papuana di bagian barat CAPC terdata lebih banyak dari yang dijumpai di bagian timur. Kerapatan individu S. papuana di bagian barat juga lebih tinggi dari pada di bagian timur CAPC. Sebaliknya kehadiran S. papuana di bagian barat lebih rendah dari pada di bagian timur CAPC. Profil habitat berdasarkan analisa vegetasi di bagian barat masih ditutupi oleh tumbuhan tingkat pohon Albizia falcataria, Pometia pinnata dan Casuarina equisetifolia. Pada bagian timur ditutupi oleh perdu, tumbuhan dari paku-pakuan (Pteridophyta) dan rumput-rumputan (Poacea).

Downloads

Download data is not yet available.

References

Anonim. 2022a. Spathoglottis plicata. http://www.orchidsnewguinea.com/orchid-information/species/speciescode/933

Anonim. 2022b. Spathoglottis papuana. http://www.orchidsnewguinea.com/orchid-information/species/speciescode/930

Arditti, J. (1992). Fundamentals of orchid biology. John Wiley and Sons, New York, USA. p. 460.

Belbin, L. (1993). PATN: Pattern analysis package. Reference manual. CSIRO-Australia.

Belbin, L. (2013). PATN pattern analysis program software.

Cahyanto, T., Chairunnisa, D., dan Surdjarwo, T. (2014). Analisa vegetasi pohon hutan alam Gunung Manglayang Kabupaten Bandung. Jurnal Istek, 8(2): 145-161.

Handoyo, F. (2019). Orchids of Indonesia, volume 2. Tjiasmanto Conservation Fund, Bekasi-Indonesia.

Handoyo, F. (2021). Anggrek spesies Papua. Perhimpunan Anggrek Indonesia (PAI) Cabang Papua, Jayapura.

Howcroft, N.H.S., and Bandisch, W.H. (1992). Notes on Spathoglottis papuana. Orchadian, 10(2), 312, fig. 3-5, pl. 7-14.

Jersáková. J., Johnson, S.D., and Kindlmann, P. (2006). Mechanisms and evolution of deceptive pollination in orchids. Biological Reviews, 81(02), 219-235. doi:10.1017/s1464793105006986.

Johnson, S.D. (1993). Carpenter bee pollination of Herschelianthe graminifolia (Orchidaceae) on the Cape Peninsula. Flora, 188, 383–386.

Johnson, S.D., and Edwards, T.J. (2000). The structure and function of orchid pollinaria. Plant Systematics and Evolution, 222, 243–269.

Jones, D.L. (2010). Starting out with orchids. Reed New Holland. Australia: Sydney.

Lavarack, B., and Harris, W.K. (2002). Botanic’s pocket-Orchids. Random House Australia: New South Wales.

O’Byrne, P. (1994). Lowland orchid of Papua New Guinea. Singapore Botanic Gardens, Singapore.

Priyono, B., Margaretha, R., Abdullah, M. (2014). Kenakeragaman vegetasi dan profil habitat di taman kehati Universitas Negeri Semarang.
Sainsteknol, 12(2): 93-102. journal.unnes.ac.id/nju/index.php/sainteknol/article/download/5388/4313.

Robert, L.J. (1996). Spathoglottis papuana. https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/6/66/LR072_72dpi_Spathoglottis_plicata.jpg.

Romeida, A., Sutjahjo, S.H., Purwito, A., Sukma, D., dan Rustikawati. (2012). Variasi genetik mutan anggrek Spathoglottis plicata Blume. Berdasarkan marker ISSR. Jurnal Agronomi Indonesia, 40(3): 218-224. http://repository.unib.ac.id/1130/1/6829-19209-1-PB.pdf

Soerianegara, I., dan Indrawan, A. (2008). Ekologi hutan Indonesia. Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Suharno dan Antoh, A.A. (2009). Regenerasi tingkat pohon di kawasan penyangga Cagar Alam
Cycloop, Kelurahan Entrop, Distrik Jayapura Selatan, Kota Jayapura. Jurnal Biologi Papua, 1(1): 7-14.
http://ejournal.uncen.ac.id/index.php/JBP/article/view/566/503

Yulia, N.D. (2007). Kajian fenologi fase pembungaan dan pembuahan Paphiopedilum glaucophyllum J.J.Sm. var. glaucophyllum. Biodiversitas, 8(1): 58-62. http://biodiversitas.mipa.uns.ac.id:80/D/D0801/D080112.pdf.

Published

2022-06-30

How to Cite

Agustina Yohana Setyarini Arobaya, & Abigail Florence Pattiselanno. (2022). Kepadatan Populasi, Frekuensi Relatif dan Kemampuan Spathoglottis papuana Hidup pada Berbagai Ekosistem di Cagar Alam Pegunungan Cycloop, Papua. JURNAL KEHUTANAN PAPUASIA, 8(1), 13–24. https://doi.org/10.46703/jurnalpapuasia.Vol8.Iss1.286